SELAMAT DATANG


Cari Blog Ini

Kamis, 18 Februari 2010

“PELESTARIAN MASKOT INDONESIA”

Oleh:Refi Sulviana Pratiwi

LAPORAN HASIL STUDI WISATA
TAMAN SAFARI INDONESIA II
Prigen – Pasuruan Jawa Timur
“PELESTARIAN MASKOT INDONESIA”

Disusun oleh:
Refi Sulviana Pratiwi
Kelas: XI IPA 4

MADRASAH ALIYAH NEGERI LUMAJANG
Jln. Citandui No. 75 Telp. (0334) 882987 Lumajang
Tahun Pelajaran 2010

Halaman Pengesahan


Judul laporan : Pelestarian Maskot Indonesia
Penulis : Revi Sulviana Pratiwi
Disahkan pada tanggal : 27 Januari 2010
Oleh :


Pembimbing



QODIRIYAH, S.Pd.
NIP. 197810032006042024





Wali Kelas XI IPA 4



Dra. NILAHAYATI
NIP. 196901271995032001







Kepala Madrasah Aliyah Negeri lumajang




Drs. H. M. NUR SYAHID, M.A
NIP. 1952080311983031002


DAFTAR ISI


Halaman Judul ------------------------------------------------------------------------------- i
Halaman Pengesahan ----------------------------------------------------------------------- ii
Daftar isi -------------------------------------------------------------------------------------- iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang --------------------------------------------------------------------- 1
B. Tujuan Penulisan -------------------------------------------------------------------- 1
C. Ruang lingkup Laporan ------------------------------------------------------------ 1
BAB II PAPARAN HASIL STUDI WISATA
A. Paparan Hasil Studi Wisata ------------------------------------------------------- 2
A.1. Pengertian Elang Jawa ------------------------------------------------------- 2
A.2. Habitat Elang Jawa --------------------------------------------------------- 2
A.3. Makanan Elang Jawa -------------------------------------------------------- 2
A.4. Organ Indera Elang Jawa ---------------------------------------------------- 2
A.5. Reproduksi Elang Jawa ---------------------------------------------------- 2
A.6. Distribusi Elang Jawa ------------------------------------------------------ 2
B. Pembahasan Hasil Studi Wisata -------------------------------------------------- 3
B.1. Upaya Konservasi Elang Jawa --------------------------------------------- 3
B.2. Pemanasan Global Mengancam Kelestarian Elang Jawa ---------------- 3
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan -------------------------------------------------------------------------- 5
B. Saran --------------------------------------------------------------------------------- 5

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Elang jawa (spizaitus Bartelsi) termasuk salah satu spesies burung pemangsa di Jawa yang banyak di ungkapkan. Spesies ini mempunyai daerah sebaran terbatas hanya di pulau jawa. Tingginya tingkat kepadatan penduduk dan pembangunan infrastruktur yangsangat pesat dipulau jawa, mengakibatkan penyempitan luas hutan yang menjadi habitat aslinya. Keadaan ini diduga menyebabkan penurunan populasi Elang jawa. Di jawa sendiri keberadaan Elang jawa terancam kepunahan, secara keseluruhan populasi Elang jawa yang merupakan binatang langka dan dilindungi ini tidak lebih dari 100 ekor. Jumlah itu diperkirakan akan terus menyusut mengingat banyak pemburu liar dan sulitnya menangkarkan enis burung ini. Selain itu, terjadinya perambahan hutan dan pengalihan fungsi juga menyebabkan sejumlah spesies satwa Elang jawa terancam punah.

B. Tujuan Penulisan
Ada beberapa tujuan penulisan dari laporan ini antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai syarat kenaikan kelas dari kelas XI ke kelas XII.
2. Untuk menambah wawasan (ilmu pengetahuan) para pelajar tentang upaya pelestarian Elang Jawa.
3. Membawa para pelajar untuk menjaga dan melestarikan lingungan serta satwa-satwa langka salah satunya Elang Jawa yang kini keberadaannya terancam punah.

C. Ruang Lingkup
Laporan kegiatan studi wisata ini disusun berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang didapat dari kegiatan studi wisata di Taman Safari Indonesia II yang tepatnya berada di daerah Prigen – Pasuruan Jawa Timur serta ditambahkan dari pencarian di Internet.
Laporan ini mencakup tentang upaya pelestarian Elang Jawa Rencana pemulihan Elang Jawa dan Struktur Elang Jawa.
BAB II
PAPARAN HASIL STUDI WISATA

A. Paparan Hasil Studi Wisata
A.1. Pengertian Elang Jawa
Elang Jawa atau dengan nama ilmiahnya spizaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 60 cm yang habitatnya berada di Pulau Jawa, Indonesia. Satwanya ini dianggap identik dengan lamban negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak tahun 1992, burung ini ditetapkan sebagai mascot satwa langka Indonesia.

A.2. Habitat Elang Jawa
Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau didataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti diujung kulon dan meru Betiri. Sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2200 m dan kadang-kadang 3000 m dpl. Elang Jawa lebih memilih habitat yang masih alami di hutan alam (48%) dan menghindari hutan tanaman.

A.3. Makanan Elang Jawa
Makanan elang Jawa antara lain berbagai jenis reptile, burung-burung sejenis walik, punai dan ayam kampong. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, msang, tikus sampai dengan anak monyet. Terdapat sebagian elang yang menangkap ikan sebagai makanan utama meeka.

A.4. Organ Indera Elang Jawa
> Penglihatan
Mata burung pemangsa berkembang dengan baik, mereka memiliki penglihatan 10 kali dari penglihatan manusia. Elang Jawa mempunyai penglihatan yang tajam untuk memburu mangsa dari jarak jauh.
> Cakar
Cakar Elang Jawa, memiliki otot-otot yang kuat dilengkapi dengan kuku yang tajam untuk mencegah mangsa-mangsa yang lepas pada saat dicengkeram oleh elang Jawa.
> Paruh
Elang Jawa memiliki paruh yang ajam dan kuat untuk mencabik-cabik mangsanya. Paruh elang tidak bergerigi tetapi mempunyai bengkok yang kuat.
> Elang mempunyai sistem pernapasan yang baik dan mampu untuk membekali jumlah oksigen yang banyak diperlukan ketika terbang. Jantung burung elang terdiri dari empat bilik seperti manusia. Bilik atas dikenal sebagai atrium, sementara bilik bawah dikenali sebagai Ventrikel.

A.5. Reproduksi Elang Jawa
> Musim kawin elang terjadi antara akhir bulan Januari hingga Mei.
> Elang Jawa Berkembang Biak setiap 2 tahun dengan cara bertelur yang mempunyai cangkang keras di dalam sarang yang dibuatnya.
> Jumlah anak elang Jawa umumnya 1 ekor.
> Masa mengerami 44 – 48 hari.

A.6. Distribusi Elang Jawa
Elang Jawa merupakan satwa endemic Pulau Jawa yang tersebar dari Ujung Barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung Timur Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian, penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan prmer dan di daerah perbukitan berhutan pada dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan diseparuh belahan selatan Pulau Jawa.

B. Pembahasan Hasil Studi Wisata
B.1. Rencana Pemulhan spesies Elang Jawa
Elang Jawa Spizaetus Bartelsi merupakan burung yang sangat indah, tetapi jenis burung pemangsa ini belum banyak diungkapkan dan hanya hidup dikawasan berhutan di pulau Jawa, Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir ini wilayah sebenarnya sudah terfragmentasi, saat ini diiperkirakan hanya tersisa 10% dari wilayah sebaran sebelumna, dan ada peningkatan ancaman bahwa populasinya di sebelah Barat dan Timr Pulau Jawa akan terpisah satu sama lain. Selanjutnya, sejak beberapa tahun ini perdagangan jenis ini semakin meningkat dan merupakan ancaman tertinggi populasi Elang Jawa yang saat ini populasinya semakin mengecil. Untuk menghentikan kecenderungan ini dan mengamankan kawasan habitat spesies ini, maka kelompok Kerja Elang Jawa (KKEJ) telah menyususn Rencana Pemulihan Spesies. KKEJ ini terdiri dari perwakilan beberapa lembaga.

Di beberapa negara Rencana Pemulihan Spesies sudah terbukti merupakan rencana kerja yang berguna untuk konservasi spesies-spesies yang terancam punah. Rencana ini di dasarkan atas prinsip-prinsip bahwa konservasi spesies akan efektif bila: a) direncanakan dengan baik dan secara teratur dikaji ulang; b) semua tindakan mempunyai sasaran dan keberhasilan dapat diukur (cara belajar ang tercepat adalah berdasarkan pengalaman); dan c) semua lembaga yang mempunyai masukan untuk konservasi spesies dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama.

B.2. Pelestarian Satwa Elang Jawa
Perambahan hutan dan pengalihan fungsi lahan menyebabkan sejumlah spesies satwa dilindngi terancam punah. Salah satunya burung Elang Jawa. Sayangnya usaha pelestarian untuk mengembalikan satwa ini kea lam bebas masih terkendala minimnya pendanaan.

Keprihatinan akan semakin punahnya burung Elang Jawa semakin dirasakan terutama oleh para pecinta alam dan aktivis lingkungan. Berbagai usaha untk mengembalikan satwa langka kehabitat asalnyapun terus dilakukan.

Dalan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 8 tahun 1999 telah ditetapkan bahwa burung-burung pemangsa adalah satwa yang dilindungi khususnya sampai tingkat famili Accipitridae. Dikeluarkannya peraturan pemerintah tersebut karena adanya peningkatan tekanan terhadap keberadaan burung pemangsa baik diburu atau diperdagangkan ataupun hilangnya sumber makanan. Oleh karena itu, burung-burung tersebut dilaang untuk diperdagangkan, bahkan secara internasional statusnya dilindungi. Burung pemangsa memilk peranan penting dalam mempertahankan keutuhan sebuah ekosistem, karena burung pemangsa mempunyai peranan sebagai predator dalam mata rantai ekosistem. Lantas jalan apa yang harus ditempuh, supaya kita tahu ke mana burung-burung tersebut dijual?. Mungkin sebaiknya dilakukan investigasi kepasar-pasar burung. Untuk melakukan investigasi perdagagan ini diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Adanya koordinasi dari perlindunan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) atau Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan petugas hukum untuk melakukan tindakan penegakan hukum, mungkin akan memudahkan investigasi di lapangan.

Kegiatan pelestarian burung pemangsa bukan tugas orang pemerintah saja. Pihak yang terkait (Stakeholder). Investigasi terhadap perdagangan ini sebetulnya dapat dilakukan dengan sistematik, dimana akan memberikan manfaat bagi stakeholder.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil studi wisata yang kami lakukan di Taman Safari Indonesia II yang bertempat di Prigen, Pasuruan Jawa Timr dapat kami simpulkan bahwa adanya perburuan, perdangan, perambahan hutan dan pengalihan fungsi menyebabkan sejumlah spesies satwa dilindungi terancam punah. Salah satunya adalah burung ang Jawa (Spizetus Bartelsi). Untuk itu perlu dilakukan investigasi perdagangan serta berbagai usaha untuk mengembalikan satwa langka kehabitat asalnya.

B. Saan
Saran dari kami adalah:
1. Waktu yang diberikan oleh lembaga felatif kurang sehingga kami tidak bisa mendapatkan data yang lengkap dan akuran, seharusnya waktu yang diberikan lebih diperpanjang.
2. Studi wisata harus tetap di selenggarakan agar siswa-siswi dapat menambah wawasan yang lebih luas lagi.
Semoga studi wisata tahun depan lebih baik dari tahuntahun sebelumnya.

Elang Jawa, Satwa Nasional yang semakin langka Oleh Pemanasan Global

Oleh: Vivin Eka Septianingsih
LAPORAN HASIL STUDI WISATA
DI TAMAN SAFARI INDONESIA II
PRIGEN – PASURUAN JAWA TIMUR

ELANG JAWA, SATWA NASIONAL YANG SEMAKIN LANGKA AKIBAT PEMANASAN GLOBAL

VIVIN EKA SEPTIANINGSIH
XI IPA 4


MADRASAH ALIYAH NEGERI LUMAJANG
Jln. CITANDU NO. 75 TELP. (0334) 882987
TAHUN AJARAN 2010



Halaman Pengesahan
Judul Laporan : Elang Jawa, satwa Nasional yang semakin Langka Akibat Pemanasan Global
Penulis : Vivin Septianingsih XI IPA 4
Disahkan pada tanggal :…………………………
Oleh :

Pembimbing


Dra. Nila Hayati
NIP. 19690127 1995032001



Wali Kelas XI IPA 4


Dra. Nila Hayati
NIP. 19690127 1995032001



Kepala Madrasah Aliyah Negeri Lumajang


Drs. H. M. Nur Syahid, M.A
NIP. 1952080311983031002













DAFTAR ISI

Halaman Judul ------------------------------------------------------------------------------- i
Halaman Pengesahan ----------------------------------------------------------------------- ii
Daftar isi -------------------------------------------------------------------------------------- iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang --------------------------------------------------------------------- 1
B. Tujuan Penulisan -------------------------------------------------------------------- 1
C. Ruang lingkup Laporan ------------------------------------------------------------ 1
BAB II PAPARAN HASIL STUDI WISATA
A. Paparan Hasil Studi Wisata ------------------------------------------------------- 2
A.1. Satwa Nasional Indonesia --------------------------------------------------- 2
A.2. Kehidupan Elang Jawa ----------------------------------------------------- 2
A.3. Upaya Pelestarian Elang Jawa ---------------------------------------------- 2
B. Pembahasan Hasil Studi Wisata -------------------------------------------------- 3
B.1. Upaya Konservasi Elang Jawa --------------------------------------------- 3
B.2. Pemanasan Global Mengancam Kelestarian Elang Jawa ---------------- 3
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ------------------------------------------------------------------------------ 5
B. Saran ------------------------------------------------------------------------------------- 5


































BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dengan luas daratan hanya 1,32% dari seluruh luas daratan yang ada di bumi ini, ternyata Indonesia memiliki + 350.000 jenis satwa yang hidup secara alami di bumi pertiwi ini. Dunia satwa Indonesia mempunyai kedudukan yang istimewa di dunia. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki “mega diversity” (kaya keaneragaman) jenis hayati dan merupakan “mega center” (pusat kekayaan) keaneragaman hayati dunia (data dept. Kehutanan).
Pada tahun 1993 telah ditetapkan 3 jenis satwa nasional, sebagai identitas bangsa Indonesia. Satu diantaranya adalah Elang Jawa. Menurut Birdlife (lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pelestarian burung dan habitatnya). Tak kurang dari 104 jenis burung di Indonesia telah terancam punah akibat perubahan maupun perubahan habitat alam akibat aktivitas manusia termasuk akibat pemanasan global.

B. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
1. Sebagai syarat untuk kenaikan kelas dari kelas XI ke kelas XII
2. Untuk memaparkan tentang satwa-satwa di Indonesia yang terancam punah terutama Elang Jawa akibat perubahan maupun pemanasan global.
3. Untuk menyadarkan masyarakat tentang arti dan pentingnya keseimbangan lingkungan bagi kehidupan.

C. Ruang Lingkup Laporan

Dalam laporan ini, permasalahan yang dibahas adalah mengenai Elang Jawa sebagai satwa nasional, kehidupan Elang Jawa dan upaya pelestariannya. Serta membahas mengenai upaya konservasi Elang Jawa dan pengaruh pemanasan global terhadap upaya konservasi Elang Jawa.























BAB II
PAPARAN HASIL STUDI WISATA

A. Paparan Hasil Studi Wisata

A.1. Satwa Nasional Indonesia
Dari kekayaan jenis satwa, tenyata baru sebagian kecil saja yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat In donesia tiga diantara jenis satwa-satwa tersebut adalah : Komodo (Varanus Komodoensis), dipilih karena satwa ini hanya terdapat di Indonesia (endemik); ikan siluk merah / ikan arwana (scelerophoes formosus) dipilih sebagai satwa pesona karena keindahannya; dan burung Elang Lawa (Spijaetus bortelsi); dipilih sebagai satwa langkah karena keberadaannya di dunia yang tinggal 200 ekor saja dan satwa ini mempunyai nilai-nilai histories yang tinggi bagi bangsa Indonesia sebagai burung lambing garuda Indonesia dan kini Elang Jawa telah ditetapkan sebagai salah satu satwa Nasional. Identitas khas milik bangsa Indonesia.

A.2. Kehidupan Elang Jawa

Elang Jawa (spizaetus bartelsi) merupakan salah satu sepsis Elang berukuran sedang yang endemic (spesies asli) di pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambing negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Sejak tahun 1992, burung ini ditetapkan sebagai mascot satwa langkah Indonesia Elang Jawa hanya tebatas di pulau Jawa, terutama diwilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan daratan rendah dengan pegunungan.

Elang Jawa menyukai pohon yang tinggi menjulang yang dapat digunakan untuk mengincar mangsa ataupun sebagai sarang. Tercatat bahwa Elang Jawa membangun sarang dipohon Rasamala (altngia excelsa), Lithocarpus dan Quercus. Umumnya sarang ditemukan dipohom yang tumbuh dilereng dengan kemiringan sedang curam dengan dasar lembah memiliki anak sungai. Hal ini berhubungan dengan kesempatan memperoleh mangsa dan pemeliharaan keselamatan anaknya.

A.3. Upaya Pelestarian Elang Jawa

Dalam peraturan Pemerintah (PP) No. 8 tahun 1999 telah ditetapkan burung-burung pemangsa termasuk Elang Jawa adalah satwa yang dilindungi khususnya sampai tingkat famili Accipitridae. Dikeluarkan peraturan pemerintah tersebut karena adanya peningkatan tekanan terhadap keberadaan burung pemangsa baik diburu / diperdagangkan ataupun hilangnya sumber makanan. Burung-burung tersebut dilarang untuk diperdagangkan, bahkan secara internasional statusnya dilindungi. Burung pemangsa memiliki peranan penting dalam mempertahankan keutuhan sebuah ekosistem karena burungpemangsa mempunyai peranan sebagai predatr dalam mata rantai ekosistem. Ada dugaan bahwa penjualan burung-burung pemangsa itu memiliki jaringan tersendiri. Sebaiknya dilakukan investgasi kepasar-pasar burung.

Untuk melakukan investigasi perdagangan ini diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Adanya koordinasi dan perlindungan hutan dan konservasi alam (PHKA) / Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan petugas hukum untuk melakukan tindakan penegakan hukum mungkin akan memudahkan investigasi dilapangan. Kegiatan pelestarian burung pemangsa bukan hanya tugas orang pemerintahan saja, tetapi juga pihak-pihak yang terkait.

Upaya pelesarian Elang Jawa juga dapat dilakukandengan melakukan beberapa hal:
1. Mempertahankan jenis tumbuhan yang menjadi makanan dan habitat Elang Jawa.
2. Observasi secara berkelanjuta dan menyeluruh terhadap aspek kehidupan dan prilaku Elang Jawa yang dapat dijadikan masukan dalam rangka penyempurnaan proses rehabilitasi / pelestariannya.
3. Kerjasama dengan orang nirlaba yang dalam kaitannya dengan program pelestarian satwa liar dan dengan masyarakat disekitar kawasan tersebut.

B. Pembahasan Hasil Studi

B.1. Upaya Konservasi Elang Jawa
Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lingkungan hidup manusia menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan karena sebagian dari komponen lingkungan menjadi berkurang fungsinya. Dampak dari perubahannya belum tentu sama tetapi akhirnya manusia juga yang harus menanggung resiko dan mengatasinya.

Elang Jawa termasuk daya dukung sistem penyangga kehidupan manusia. Jika Elang Jawa punah akan menyebabkan bertambahnya satwa yang hilang dan bumi Indonesia seperti harimau Jawa dan harimau Bali. Diharakan masyarakat proaktif dalam menyelamatkan Elang Jawa dan dan habitatnya. Upaya minimal adalah dengan melaporkan kepada petugas polisi kehutanan / kepala desa setempat apabila terjadi pengrusakan hutan / habitat Elang Jawa. Penangkapan, pemeliharaan maupun perdangan Elang Jawa / membuat sebuah kelompok penyelamatan Elang Jawa.

Hal ini harus dilakukan untuk mencegah kematian Elang Jawa itu sendiri mengingat Elang Jawa terancam punah. Dengan sadarnya masayarakat akan penyelamatan Elang Jawa diharapkan keberadaan Elang Jawa akan lestari, sehingga pesona Elang Jawa tidak hilang ditelan masa. Kita sebagai masayarakat harus tetap ikut berpartisipasi dalam upaya konservasi satwa liar terutama Elang Jawa tanpa harus menjadi aktivis satwa liar yang gemar dan rajin melakukan demo hentikan perdagangan satwa liar dan semacamnya.

B.2. Pemanasan Global Mengancam Kelestarian Elang Jawa

Tahukah anda bahwa Elang Jawa (spizaetus bartelsi) yang menjadi lambing Negara kita. Garuda Indonesia adalah tergolong sebagai burung langkah yang terancam punah? Populasinya diperkirakan tinggal 200 ekor saja. Padahal, Elang Jawa telah dilindungi oleh undang-undang Indonesia sejak tahun 1970 dan dikukuhkan sebagai salah satu satwa nasional melalui Keppres RI No. 4 tahun 1993. namun, kini ancaman kepunahan itu semakin tinggi. Mengapa demikian? Itu dikarenakan habitat burung ini semakin menyempit dan dampak pemanasan global.

Apa penyebab pemanasan global itu sendiri? Pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi yang disebabkan oleh efek rumah kaca. Kontribusi terbesar pemanasan global saat ini adalah karbondioksida (CO2). Jika gas CO2 + 0,03% dapat mengganggu pernafasan. Gas ini juga mengakibatkan rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini, karena pohonpohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersipan di dalam jaringannya keatmosfir. Hal ini akan mengakibatkan habitat para satwa tertama Elang Jawa terganggu.

Gas-gas lain seperti chlorofluora bons (cfc) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2 . Tetapi untungnya pemakaian cfc telah dilarang dibanyak negara karena cfc telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon. Disamping itu cfc ini sering dipakai sebagai gas pendingin lemari es, pendingin ruangan, penyemprot kosmetik serta berguna dalam pelestarian Elang Jawa. Cfc ini dipakai sebagai pendingin ruangan yang yang ditempatkan dalam ruangan khusus yang dipakai untuk menetaskan telur Elang Jawa.

Pada zaman sekarang ini udara dingin sangat sulit. Didapatkan. Pada hal Elang Jawa hidup dihabitat yang mempunyai udara cukup dingin, oleh karena itu dikawasan konservasi ex situ seperti Taman Safari menggunakan cfc untuk membantu menetaskan telur Elang Jawa.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai bagian dari lingkungan. Manusia menyadari bahwa keselamatannya tergantung pada keutuhan lingkungannya. Elang Jawa juga termasuk di dalamnya. Apabila lingkungan rusak, kehidupan Elang Jawa akan terancam punah dan manusia akan menderita.

Elang Jawa adalah konsumen tingkat satu dalam rantai makanan. Jika Elang Jawa punah maka akan mengakibatkan satwa yang lain teancam punah juga. Oleh kaena itu, kita sebagai masayarakat Indonesia harus menyadari tentang arti dan pentingnya keseimbangan lingkungan.

B. Saran
Saran yang dapat kami berikan hanya sedikit yakni mari kita jaga kelestarian keaneragaman hayati terutama Elang Jawa. Janganlah kita membuat aktivitas-aktivitas yang nantinya akan mengancam kelestarian lingkungan dan dapat membuat kerusakan lingkungan. Kita harus menyadari akan arti pentingnya lingkungan dalam rangka untuk menigkatkan kualitas lingkungan serta dari generasi yang akan datang terutama kelestarian lang Jawa.

Minggu, 14 Februari 2010

Asbabun Nuzul

Oleh: Abi Nafiah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus mereka imani dan laksanakan dalam kehidupan mereka agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena itu, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya. Tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga otentitasnya. Mengenai mengerti asbabun nuzul sangat banyak manfaatnya. Karena itu tidak benar orang-orang mengatakan, bahwa mempelajari dan memahami sebab-sebab turun al-Qur’an itu tidak berguna, dengan alasan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an itu telah masuk dalam ruang lingkup sejarah. Di antara manfaatnya yang praktis ialah menghilangkan kesulitan dalam memberikan arti ayat-ayat al-Qur’an.
Imam al-Wahidi menyatakan; tidak mungkin orang mengerti tafsir suatu ayat, kalau tidak mengetahui ceritera yang berhubungan dengan ayat-ayat itu, tegasnya untuk mengetahui tafsir yang terkandung dalam ayat itu harus mengetahui sebab-sebab ayat itu diturunkan.
Ulama salaf tatkala terbentur kesulitan dalam memahami ayat, mereka segera kembali berpegang pedoman asbabun nuzulnya. Dengan cara ini hilanglah semua kesulitan yang mereka hadapi dalam mempelajari al-Qur’an.
Dalam hal ini penulis mencoba menuangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “Asbabun Nuzul” dengan harapan semoga makalah ini dapat menambah keimanan dan keilmuan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amin.

B. Batasan Masalah
A. Pengertian Asbabun Nuzul
B. Macam-macam Asbabun Nuzul
C. Manfaat Asbabun Nuzul


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Asbabun Nuzul
Secara etimologis, asbabun nuzul berarti sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatar belakangi terjadinya sesuatu disebut asbabun nuzul, dalam pemakaiannya, ungkapan asbabun nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatar belakangi turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, seperti halnya asbabul wurud yang khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadits.
Ada beberapa pengertian tentang asbabun nuzul, diantaranya adalah :
1. Menurut Subhi Shalih, ababun nuzul ialah:
ما نزلة الاية او الايات بسيه متضمة له او مجية عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه

“Sesuatuyang dengan sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya; pada masa terjadinya peristiwa itu.”
2. Menurut Az-Zarqani:
“Asbabun Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat Al-qur’an yang berfungsi sebagai penjelas hokum pada saat peristiwa itu terjadi.”
3. As-Shabuni
“Asbabun Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.
Kendati redaksi pendefinisian di atas sedikit berbeda, semuanya menyimpulkan bahwa yang disebut asbabun nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-qur’an, dalam rangka menjawab, menjelaskan, dan menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari kejadian tersebut.
B. Macam-macam Asbabun Nuzul
DR. Rosihon Anwar, M.Ag. menyebutkan dalam bukunya ulumul Qur’an, bahwa ada dua hal yang menjadi sudut pandang dalam membagi macam-macam asbabun nuzul, yaitu:
1. Dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam riwayat asbabun nuzul
Dari sudut pandang yang pertama ini ada dua redaksi yang dipergunakan perawi dalam mengungkapkan riwayat asbabun nuzul yaitu sharih (jelas) dan muhtamilah (kemungkinan). Redaksi sharih artinya riwayat yang sudah jelas menunjukkan asbabun nuzul, dan tidak mungkin menunjukkan yang lainnya. Redaksi dikatakan sharih bila perawi mengatakan:
Sebab turun ayat ini adalah…..
Atau perawi menggunakan kata “maka” (fa taqibiyah) setelah ia mengatakan peristwa tertentu. Umpamanya ia mengatakan :
Telah terjadi……. Maka turunlah ayat….
Rasulullah pernah ditanya tentang….maka turunlah ayat….
Contohnya riwayat asbabun nuzul yang menggunakan redaksi sharih adalah riwayat yang dibawakan oleh Jabir yang mengatakan bahwa orang-orang yahudi berkata, “apabila seorang suami mendatangi “kubul” istrinya dari belakang, anak yang lahir akan juling. “Maka turunlah ayat:
Al-baqarah: 223
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ (٢٢٣)
223. isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.

Adapun redaksi yang termasuk muhtamilah bila perawi mengatakan “Ayat ini dirturunkan berkenaan dengan ….”
Umpamanya riwyat Ibnu Umar yang menyatakan:
نزلت في اتيان النساء في ادبارهن
Artinya:
“Ayat istri-istri kalian adalah ibarat tanah tempat bercocok tanam, diturunkan berkenaan dengan mendatangi (menyetubuhi) istri dari belakang.”(H.R. Bukhari)

Atau perawi mengatakan:
احسب هذه الاية نزلت في كذا .....
Artinya:
“Saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan ….”
Atau
مااحسب نزلت هذه الاية الا في كذا ....
Artinya:
“Saya kira ayat ini tidak diturunkan kecuali berkenaan dengan …”
Mengenai riwayat asbabun nuzul yang menguunakan redaksi muhtamilah, Az-Zarkasy menuturkan dalam kitabnya Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an:
قد عرف من عادة الصحابة والتابعين ان احدهم اذا قال نزلت هذه الاية في كذا فانه يريد بذلك انها تتضمن هذالحكم لاان هذا كان السبب في نزولها
Artinya:
“sebagaimana diketahui, telah menjadi kebiasaan para sahabat Nabi dan tabi’in, jika seorang diantara mereka berkata , “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan….” Maka yang dimaksud adalah ayat itu mencakup ketentuan hokum tentang ini atau itu, dan bukan bermaksud menguraikan sebab turunnya ayat.”

Skema 1
Redaksi Periwayatan Asbab An-Nuzul



2. Dilihat dari sudut pandang berbilangnya Asbab An-Nuzul untuk satu ayat atau berbilangnya ayat untuk satu Asbab An-Nuzul
a. Berbilangnya Asbab An-Nuzul untuk satu ayat (Ta’addad As-Sabab wa Nazil Al-wahid)
Tidak setiap ayat memiliki riwayat asbabun nuzul dalam versi. Adakalanya satu ayat memiliki beberapa versi riwayat asbabun nuzul. Tentu saja hal itu tidak akan menjadi persoalan bila riwayat itu tidak mengandung kontradiksi. Bentuk variasi itu terkadang terdapat dalam redaksinya dan terkadang pula dalam kualitasnya. Untuk mengatasi variasi riwayat asbabun nuzul dalam satu ayat dari sisi redaksi, para ulama mengemukakan cra sebagai berikut:
1) Tidak mempermasalahkannya
Cara ini ditempuh apabila variasi riwayat asbabun nuzul menggunakan redaksi muhtamilah (tidak pasti). Umpamanya, satu versi menggunakan redaksi, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ….” Dan versi lain menggunakan redaksi, “Saya kira ayat diturunkan berkenaan dengan….”
Variasi riwayat asbabun nuzul ini tidak perlu dipermasalahkan karena yang dimaksud oleh setiap variasi itu hanyalah sebagai tafsi belaka dan bukan asbabun nuzul. Hal ini berbeda bila ada indikasi jelas yang menunjukkan bahwa salah satunya memaksudkan asbabun nuzul.
2) Mengambil versi riwayat asbabun nuzul yang menggunakan redaksi sharih
Cara ini digunakan bila salah satu versi riwayat asbabun nuzul itu tidak menggunakan redaksi sharih (pasti). Umpamanya riwayat asbabun nuzul yang menceritakan kasus seorang lelaki yang menggauli istrinya dari belakang. Mengenai kasus itu nafi’ berkata, “Satu hari, aku membaca ayat ‘Nisa’ukum hartsun lakum.” Ibnu Umar kemudian berkata, “Tahukah engkau, mengenai apa ayat ini diturunkan? “Tidak,” jawabku ia melanjutkan “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan menyetubuhi wanita dari belakang.” Sementara itu, Ibnu Umar menggunakann redaksi yang tidak sharih (pasti), yang dalam salah satu riwayat Jabir, dikatakan :
“Seorang yahudi mengatakan bahwa apabila seseorang m enyetubuhi istrinya dari belakang, maka anak yang lahir juling. Maka diturunkanlah ayat Nisa’ukum hartsun lakum.”
Dalam kasus ini, riwayat Jabirlah yang harus dipakai karena ia menggunakan redaksi sharih (pasti).
3) Mengambil versi riwayat yang shahih
Cara ini digunakan apabila seluruh riwayat itu menggunakan redaksi sharih (pasti), tetapi kualitas salah satunya tidak shahih. Umpamanya dua riwayat asbabun nuzul kontradiktif yang berkaitan dengan diturunkannya ayat:
Q.S. Adh-Dhuha 1-3

وَالضُّحَى (١)وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (٢)مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (٣)
1. demi waktu matahari sepenggalahan naik,
2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

Versi pertama yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Jundab mengatakan:
Rasulullah merasa kurang enak badan sehingga beliau tidak sholat malam selama satu atau dua malam. Seorang wanita dating kepada beliau seraya berkata: “Hai Muhammad, aku melihat setanmu (yang dia maksud ialah Jibril) telah meninggalkan engkau.” Maka turunlah ayat Wadh dhuha (1) Wal laili idza saja (2) Ma wad da’aka Robbuka wa ma qola (3)
Versi kedua yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibn Abi-Syaiban dari Hafsah bin Maisyarah, dari ibunya, dari neneknya (khadam Rasulullah) mengatakan:
“Seekor anjing masuk ke dalam rumah Rasulullah dan bersembunyi di bawah tempat tidur sampai mati. Karenanya selama empat hari Rasulullah tidak menerima wahyu. Nabi berkata, “Wahai Khaulah! Apakah yang telah terjadi di rumah Rasulullah? (sehingga) Jibril tidak dating kepadaku.” Maka akupun (Khaulah) berkata, “Alangkah baiknya jika kuperiksa langsung keadaan rumahnya dan menyapu lantainya. Aku masukkan sapu ke bawah tempat tidur dan mengeluarkan bangkai anjing darinya. Nabi kemudian dating dalam keadaan dagu gemetar. Oleh karena itu, ketika menerima wahyu, dagu Nabi selalu bergetar. Maka Allah menurunkan surat Adh-Dhuha:1-3.
Studi kritis terhadap versi kedua menyatakan bahwa status riwayatnya pada kualitas tidak shahih. Ibnu Hajar mengatakan bahwa kisah keterlambatan Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi karena anak anjing memang masyhur, tetapi keberadaannya sebagai asbabun nuzul adalah asing (gharib) dan sanadnya ada yang tidak dikenal. Oleh karena itu, yang harus diambil adalah riwayat lain yang shahih.
Sedangkan terhadap variasi riwayat asbabun nuzul dalam satu ayat yang versinya berkualitas, para ulama mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Mengambil versi riwayat yang sahih
Cara ini diambil bila terdapat dua versi riwayat tentang asbabun nuzul satu ayat, yang salah satu versi berkualitas sahih, sedangkan yang lain tidak. Umpamanya dua versi riwayatasbabun nuzul kontradiktif untuk surah Adh-Dhuha ayat 1-3
(2) Melakukan studi selektif (tarjih)
Langkah ini diambil bila kedua versi asbabun nuzul yang berbeda-beda itu kualitasnya sama-sama shahih, seperti asbabun nuzul yang berkaitan dengan turunnya ayat tentang ruh. Versi asbabun nuzul yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud mengatakan:
“Aku berjalan bersama Rasulullah di Madinah dan beliau dalam keadaan bertekan pada pelepah kurma. Ketika beliau melewati sekelompok orang yahudi. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lainnya. “Alangkah baiknya bila kalian menanyakan sesuatu kepadanya (Muhammad). “Kemudian mereka berkata, “Ya Muhammad terangkan kepada kami tentang ruh.” Nabi berdiri sejenak sambil mengangkat kepala, (saat itupun) aku tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu. Dan beliaupun membacanya. “Katakanlah, permasalahan ruh adalah sebagian dari urusan tuhanku. Dan tidak diberikan kepadamu ilmu kecuali sedikit saja.”
Dalam versi asbabun nuzul yang dikeluarkan oleh bukhari dan turmudzi dari Ibnu Abbas disebutkan:
“oOrang-orang Quraiys berkata kepada orang-orang yahudi, “Berikan kepada kami tenang sesuatu yang akan ditanyakan kepada lelaki ini (Nabi).” Mereka menjawab, “Bertanyalah kepadanya tentang ruh.” Maka mereka pun bertanya tentangnya kepada Nabi. Maka Allah menurunkan, “Wa yas-alunaka anirruh….”
Kedua riwayat yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Turmudzi di atas berstatus sahih. Akan tetapi, mayoritas ulama’ lebih mendahulukan hadits Bukhari daripada hadits Turmudzi karena hadits Bukhari lebih unggul (rajah), sedangkan hadits Turmdzi tidak unggul (marjuh). Alasan yang diemukakan mereka adalah bahwa Ibnu Mas’ud menyasikan kejadian di atas, sedangkan Ibn Abbas hanya mendengarnya dari orang lain. Dalam kasus di atas, As-Suyuti berkomentar sebagai berikut:
“Studi tarjih telah menyimpulkan bahwa riwayat Bukhari dipandang lebih sahih daripada riwayat Turmudzi, karena Ibn Mas’d mengahdiri langsung kejadian di atas.”
(3) Melakukan studi kompromi (jama’)
Langkah ini diambil bila kedua riwayat yang kontradiktif itu sama-sama memiliki kesahihan hadis yang sederajat dan tidak mungkin dalakukan tarjih. Umpamanya dua versi riwayat asbabun nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat Mu’amalah surat An-Nur ayat 6. dalam versi Bukhari dan Muslim melalui jalur Shahal Ibn Sa’ad dikatakan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan salah seorang sahabat bernama Uwaimir yang bertanya kepada Rasulullah SAW. Tentang apa yang harus dilakuan oleh seorang suami yang mendapati istrinya bezina dengan orang lain. Akan tetapi, dalam versi Buhari melaui jalur Inb Abbas dikatakan bahwa ayat tersebut turun dengan latar belakang kasus Hilal Ibn Umayah yang mengadu kepada Rasulullah SAW. Bahwa istrinya berzina dengan Sarikh Ibn Sahma’. Kedua riwayat itu berkualitas sahih dan tidak mungin dilakukan studi tarjih. Oleh karena itu, perlu dilakukan studi kompromi (jama’). Dua kejadian itu berdekatan masanya sehingga kita mudah mengkompromkan keduanya. Dalam jangka waktu yang tidak berselang lama, kedua orang sahabat bertanya kepada Rasululah SAW. Tentang masalah serupa, maka turunlah ayat mu’amalah untuk menjawab pertanyaan mereka.
Kalau kedua versi riwayat asbabun nuzul itu sahih atau tidak sahih atau tidak dapat dilakukan studi tarjih dan jama’ maka hendaklah kita anggap ayat itu itu diturunkan berulang kali. Dalam istilah ilmu Al-Qur’an hal itu dapat disebut “berulangnya turun ayat” (ta’adudud an-nuzul) sebagai contoh adalah dua versi asbabun nuzul yang melatar belakangi turunya surah Al-Ihlash. Satu riwayat mengatakan bahwa surat itu turun untuk menjawab pertanyaan kelompok musyirikin Mekah. Riwayat lainnya mengatakan bahwa surat itu turun untuk menjawab kelompok Ahli Kitab di Madinah. Karena kedua riwayat sama-sama sahih dan tidak mungkin untuk dilakukan studi tarjih dan jama’ kita anggap bahwa ayat tersebut turun dua kali.

Skema 2
Variasi Periwayatan Asbabun Nuzul



C. Manfaat mengetahui Asbabun Nuzul
Abu Mujahid dalam karya tulisnya menjelaskan, bahwa mengetahui asbabun nuzul mempunyai beberapa manfaat :
Untuk menghilangkan kesulitan dalam memahami ayat.
Untuk menghilangkan kesalahan dalam memahami ayat

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Asbabun nuzul hadir sebagai bagian dari ulumul Al-qur’an. Karena sebagian Al-qur’an turunya punya latar belakang. Latar belakang itu ada berupa kejadian-kejadian, dan pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh para sahabat.
Asbabun nuzul juga bermacam-macam dilihat dari sudut pandang redaksi yang dipergunakan dalam periwayatannya, serta dipandang ari sudut pandang berbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat serta berbilangnya ayat untuk satu asbabun nuzul.
Manfaat asbabun nuzul adalah menghilangan kesulitan dalam memahami ayat, dan untuk menghilangkan kesalahan dalam memahami ayat.

Dasar dan tujuan pendidikan

BAB I
Oleh: Abi Nafiah
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Secara umum dalam melakukan segala aktivitas tentu ada hal-hal yang mendasari, ada hal-hal yang ingin dicapai sebagai tujuan. Dengan dasar-dasar dan tujuan orang mewarnai dan mengarahkan kegiatannya.
Drs. H. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati dalam bukunya Ilmu Pendidikan mengatakan, “Masalah dasar dan tujuan pendidikan adalah suatu masalah yang sangat fondamentil (mendasar/menentukan) dalam pelaksanaan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Dan dari tujuan pendidikan akan menentukan kearah mana anak didik itu dibawa.
Lebih lanjut beliau berdua mengatakan bahwa pendidikan sangat penting dalam kehidupan, bahkan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dari kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan Negara. Maju mundurnya suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan Negara itu.
Hampir semua Negara di dunia ini menangani secara langsung masalah-masalah yang berhubungan dengan pendidikan, karena pendidikan dianggap sebagai hal yang sangat penting
Selain itu masing-masing orang mempunyai bermacam-macam tujuan pendidikan, yaitu melihat kepada cita-cita, kebutuhan dan keinginannya. Ada yang mengharapkan supaya anaknya kelak menjadi orang besar yang berjasa kepada nusa dan bangsa. Ada yang menginginkan supaya anaknya menjadi dokter, insiyur atau seorang ahli seni. Yang lebih sederhana sering orang tua mengharapkan anaknya agar tidak bodoh seperti orang tuanya.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat kami rumuskan pembahasan masalah dasar dan tujuan pendidikan sebagai berikut:
A. Pengertian dasar dan tujuan pendidikan
B. Dasar dan tujuan pribadi pendidikan
C. Dasar dan tujuan pendidikan duniawi dan akhirat
D. Dasar dan tujuan pendidikan umum
E. Tujuan pendidikan dan pandangan hidup
F. Sifat dan tujuan pendidikan
1) Tujuan umum
2) Tujuan khusus
3) Tujuan tak lengkap
4) Tujuan insindentil (tujuan seketika aau sesaat)
5) Tujuan sementara
6) Tujuan perantara

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Dasar danTujuan Pendidikan
Kata “dasar” dalam kamus bahasa Indonesia berarti alas, fondasi, landasan bangunan. Drs. H. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati dalam bukunya Ilmu Pendidikan, mengartikan kata “dasar” yaitu sebagai sesuatu yang dipakai landasan untuk berpijak. Dan dari sanalah segala aktivitas yang berdiri di atasnya (termasuk aktivitas pendidikan) akan dijiwai atau diwarnai.
Sedangkan kata “tujuan” berarti arah, jurusan, maksud, sasaran. Dalam istilahnya tujuan adalah sesuatu yang akan diraih dengan melakukan aktifitas tersebut.
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa dasar pendidikan adalah sesuatu yang dipakai sebagai landasan untuk berpijak bagi pendidikan. Sedang kesimpulan arti tujuan pendidikan adalah sesuatu yang ingin diraih dalam pendidikan.
B. Dasar dan tujuan pribadi pendidikan
Tiap-tiap rang pada umumnya memiliki tujuan agar dalam hidupnya memperoleh kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan itu relative, tergantung dari pandangan hidup masing-masing orang. Berdasarkan “kepribadian pendidik” ini, maka dasar dan tujuan pendidikan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:
Dasar:
Nilai-nilai hidup (ekonomi, estetis, intelek, social, politik, dan agama).
Tujuan:
Agar anak didik dapat mewujudkan / menikmati nilai-nilai hidup tersebut: memiliki kekayaan harta, menhayati keindahan / kesenian, memiliki pengetahuan luas, berwatak social, berperan dalam bidang kekuasaan, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


C. Dasar dan tujuan pendidikan duniawi dan akhirat
Setiap orang mengerti, bahwa setelah hidupnya didunia ini, ia akan sampai di dunia lain yaitu dunia baka. Berdaasarkan pengertian ini, maka dasar dan tujuan pendidikan dapat dipaparkan sebagai berikut:
a). Dasar : Agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Tujuan : Kebahagiaan di alam baka
b). Dasar : Nilai hidup duniawi
Tujuan : Kebahagiaan di alam fana

D. Dasar dan tujuan pendidikan umum
disamping perbedaan-perbedaannya, manusia ternyata masih memiliki persamaan-persamaan dasar dan tunjuan yang bersifat umum. Berdasarkan hakiki dan tugas manusia di dunia ini dapatlah diketemukan suatu dasar dan tujuan pendidikan, yang pada umumnya dapat diterima oleh semua orang, bagkan semua bangsa.
a). Dasar : Manusia adalah ciptaan Tuhan
Tujuan : Memuji nama Tuhan, melaksanakan tugas dari pada-Nya.
b). Dasar : Manusia adalah insane yang memiliki kedudukan dan tugasnya yang sama.
Tujuan : Melakukan tugas kemanusiaan, membangun kebahagiaan umat manusia.
c). Dasar : Manusia hidup mengelompok menurut bangsa dan Negara.
Tujuan : Membentuk warga Negara yang baik, bertanggung jawab, menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
d). Dasar : Manusia hidup bermasyarakat.
Tujuan : Menjadi anggota masyarakat yang baik.
e). Dasar : Manusia adalah makhluk moral.
Tujuan : Hidup sehat baik jasmani maupun rohaninya.
Dari kelima hal diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan yang sesuai dengan hakiki dan tugas manusia ialah mampu melaksanakan tugas dari tuhan dengan sebaik-baiknya, mampu melaksanakan tugas kemanusiaan, mampu melaksanakan tugas kewarga Negara, mampu melaksanakan tugas kemasyarakatan, dan mampu melakukan tugas pribadi sebaik-baiknya.

E. Tujuan pendidikan dan pandangan hidup
Para ahli pendidikan juga mengaitkan antara tujuan tujuan pendidikan dan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup itu seseorang atau sebuah bangsa akan menemukan arah, bahkan mengarahkan pendidikannya pada pandanan hidup itu.
Dalam dunia pendidikan persoalan-persoalan yang ada kaitannya dengan tujuan pendidikan, akan dapat diwadahi dalam pandangan hidup (filsafat hidup) sesuatu bangsa yang melakuakan aktivitas pendidikan tersebut. Bagi bangsa Indonesia, pandangan hidup (filsafat hidup) itu adalah Pancasila. Karena perbedaan pandangan hidup (filsafat hidup) bagi setiap bangsa, maka tujuan pendidikanpun juga berbeda bagi masing-masing bangsa itu.

F. Sifat dan tujuan pendidikan
Tujuan yang sebenarnya dari suatu perbuatan kadang-kadang tidak lekas nampak, karena masih memerlukan tindakan selanjutnya. Yang segera nampak itu adalah tujuan dekat yang sifatnya sementara, dan berfungsi membantu tercapainya tujuan yang sebenarnya.
Setelah tujuan dekat tercapai, baru diadakan tindak lanjut demi tercapainya tujuan yang sebenarnya, tujuan akhir yang sifatnya tetap, dan disebut tujuan tetap.
Langeveld mengemukakan seringkali tujuan pendidikan, yang saling bertautan sebagi berikut: tujuan umum, tujuan khusus, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tujuan incidental. Tujuan perantara.
1). Tujuan umum (tujuan lengkap, tujuan total)
Tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan anak didik. Hal ini berarti bahwa semuua aktivitas pendidikan seharusnya diarahkan ke sana, demi tercapainya tujuan umum tersebut.


2). Tujuan khusus
Untuk mencapai tujuan umum, perlu adanya pengkhususan tujuan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi-situasi tertentu. Misalnya:
- Disesuaikan dengan cita-cita pembangunan suatu bangsa.
- Disesuaikan dengan tugas dari suatu badan atau lembaga pendidikan.
- Disesuaikan dengan bakat dan kemampuan anak didik.
- Disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan sebagainya.
Tujuan-tujuan pendidikan yang elah disesuaikan dengan keadaan-keadaan tertentu, dalam rangka untuk mencapai tujuan umum. Pendidikan inilah yang dimaksud dengan tujuan khusus.
Contoh:
Tujuan pendidikan asar misalnya: Tujuan pendidikan dasar adalah memberikan pengetahuan dan ketrampilan pada anak untuk bekal hidupnya setelah a tamat dan sekaligus merupakan dasar ersiapan untuk melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi.
3). Tujuan tak lengkap
Dalam pendidikan itu mempunyai bagian-bagian dari pendidikan. Ada pendidikan yang mengarah pada kecerdasan , ada yang mengarah pada pengetahuan teori, ada yang yang mengarah pada pengetahuan praktik. Kesemuanya bagian-bagian itu tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan dan saling melengkapi.
Mempelajari sebagian dari pendidikan itulah yang disebut sebagai tujuan tak lengkap.
4). Tujuan insindentil (tujuan seketika atau sesaat)
Tujuan ini timbul secara kebetulan, secara mendadak dan hanya bersifat sesaat . misalnya: tujuan untuk mengadakan hiburan atau variasi dalam kehidupan sekolah. Maka diadakanlah darmawisata kesuatu tempat. Daam hal ini tujuan itu telah selesai, setelah darmawisata itu dilaksanakan.
Inti dari tujuan insidentil ini adalah memberikan satu pengalaman-pengalaman pada anak didik yang nantinya halt u sangat berguna bagi kehidupannya dimasa datang. Baik kehidupannya disekolah maupun kehidupannya setelah dewasa.
5). Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah tujuan-tujuan yang ingin kita capai dalam fase-fase tertentu dari pendidikan.
Misalnya: anak di masukkan ke sekolah. Tujuannta ialah agar anak dapat membaca dan menulis. Dapat membaca dan menulis ini adalah tujuan sementara. Tujuan tujuan yang lebih lanjut ialah agar anak dapat belajar ilmu pengetahuan dari buku-buku.
Dapat belajar dari buku, inipun merupakan tujuan sementara. Tujuan sebenarnya ialah agar anak dapat memiliki ilmu pengetahuan. Da begitulah seterusnya hingga tujuan sementara itu makin meningkat untuk menuju ada tujuan umum, tujuan total atau tujuan akhir.
6). Tujuan Perantara
Tujuan ini adaah alat atau sarana untuk mencapai tujuan –tujuan yang lain. Misalnya: kita belajar bahasa inggris atau bahasa yag lainnya tujuan belajar bahasa ini ialah, agar kita dapat mempelajari buku-buku yang ditulis dalam bahasa inggris. Menguasai bahasa inggris ini merupakan alat untuk mengetahui ilmu-ilmu dari Negara lain.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dasar dan tujuan pendidikan sangat berperan penting dalam membuat corak dan arah pendidikan yang dikehendaki. Dasar dan tujuan pendidikan memiliki perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan. Yang menjadi perbedaan dasar dan tujuan pendidikan terletak pada tujuan pribadi pendidikan dan tujuan pribadi dunia dan akhirat. Sedang persamaan dasar dan tujuan pendidikan terletak pada tujuan pendidikan secara umum.
Mengenai tujuan pendidikan tidak bisa dihindari adannya perbedaan. Hal ini terjadi karena perbedaan pandangan hidup. Seperti bangsa Indonesia pandangan hidupnya adalah Pancasila.

Daftar Pustaka
Ahmadi Abu, H. Drs. Uhbiyati Nur , Dra. Ilmu Pendidikan, penerbit Rineka Cipta
Marsam D. Leonar, Zulkarnain Y, Aditama Surya M, Alam Surya G, Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Penerbit Karya Utama

Senin, 07 Desember 2009

Sejarah Ulumul Hadits


Oleh: Abi Nafiah


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mengkaji sejarah perkembangan hadis sangat penting dan mendasar sebelum mengkaji secara lebih jauh tentang hadits. Anjar nugroho mengungkapkan dalam makalahnya yang ia kutip dalam dari tulisan pakar hadits Indonesia Prof. Hasbi ash-Shidieqy (1987)[1], bahwa mempelajari sejarah dipandang perlu yaitu dengan memeriksa periode-periode yang telah dilalui oleh hadits (sejarah perkembangannya), maka dapat mengetahui proses pertumbuhan dan perkembangan hadits dari masa kemasa yang begitu dinamis dan kompleks. Mengetahui perkembangan hadits, baik perkembangan riwayat-riwayatnya maupun pembukuannya, sangat diperlukan karena dipandang menjadi satu kesatuan dengan studi hadits.

Perkembangan hadits pada masa awal lebih banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan tercampurnya nash al-Qur'an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-Qur'an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa Tabi'in Besar. Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat menentang penulisan hadits, begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi penulisan dan pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H).[2]

B. Tujuan

Pengkajian sejarah hadits dari masa kemasa ini bertujuan agar para pembaca mengetahui eksistensi dan perkembangan hadits pada masa Nabi, masa sahabat, dan tabi’in, pada masa abad ke II, III, IV, H hingga sampai sekarang.

C. Rumusan Masalah

A. Pengertian sejarah hadits

B. Sejarah hadits pada masa NAbi Muhammad Saw

C. Sejarah hadits pada masa Sahabat dan Tabi’in

D. Sejarah hadits pada masa abad ke II, III, dan IV H

E. Sejarah pada abad ke V H sampai sekarang

F. Analisis

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sejarah Hadits

Sejarah hadits terdiri dari dua kata yaitu kata “sejarah” dan kata “hadits”. Kata sejarah yang kita gunakan pada masa sekarang ini bersumber dari perkataan arab yaitu syajaratun yang berarti pohon. Dari sisi lain, istilah history merupakan terjemahan dari kata dalam bahasa yunani yakni histories yang memberikan arti suatu pengkajian. Dalam sebuah tulisan yang berjudul definisi sejarah (2007) mengutip pandangan "Bapa Sejarah" Herodotus, Sejarah ialah satu kajian untuk menceritakan satu perputaran jatuh bangunnya seseorang tokoh, masyarakat dan peradaban. Sedangkan menurut pendapat Aristoteles Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekaman-rekaman atau bukti-bukti yang kukuh.[3]

Hadits secara Lughowi (Harfiyah) adalah ism masdar, yang fi’il madhi dan mudhori’nya, hadatsa – yahdutsu yang berarti baru. Hadits secara istilah ialah segala perkataan (aqwal), perbuatan (af’al) dan persetujuan (taqrir) dan sifat Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian dapat disimpukan bahwa sejarah hadits ialah suatu kajian peristiwa-peristiwa masa lalu dari segala perkataan (aqwal), perbuatan (af’al) dan persetujuan (taqrir) dan sifat Nabi Muhammad Saw.[4]

B. Sejarah hadits pada masa Nabi Muhammad Saw

Pada masa pertama ini disebut masa pembentukan dan penyebaran hadits. Rasulullah hidup di tengah-tengah masyarakat dan sahabatnya. Mereka bergaul secara bebas dan mudah, tidak ada peraturan atau larangan yang memepersulit para sahabat untuk bergaul dengan beliau. Segala perbuatan, ucapan, dan sifat Nabi bisa menjadi contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa tersebut. Masyarakat menjadikan nabi sebagai panutan dan pedoman dalam kehidupan mereka. Jika ada permasalahan baik dalam Ibadah maupun dalam kehidupan duniawi, maka mereka akan bisa langsung bertanya pada Nabi.[5]

Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota Madinah pun juga selalu berkonsultasi pada Nabi dalam segala permasalahan mereka. Adakalanya mereka mengirim anggota mereka untuk pergi mendatangi Nabi dan mempelajari hukum- hukum syari'at agama. Dan ketika mereka kembali ke kabilahnya, mereka segera menceritakan pelajaran (hadits Nabi) yang baru mereka terima.

Selain itu, para pedagang dari kota Madinah juga sangat berperan dalam penyebaran hadits. Setiap mereka pergi berdagang, sekaligus juga berdakwah untuk membagikan pengetahuan yang mereka peroleh dari Nabi kepada orang-orang yang mereka temui.

Penyebaran hadits-hadits pada masa Rasulullah hanya disebarkan lewat mulut ke mulut (secara lisan). Hal ini dikarenakan banyak sahabat yang tidak bisa menulis hadits, tetapi juga karena Nabi melarang untuk menulis hadits. Beliau khawatir hadits akan bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran.

Menurut Al-Bagdadi[6] (w. 483 H), ada tiga buah hadits yang melarang penulisan hadits, yang masing-masing diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri, Abu Hurairah, dan Zaid ibnu Tsabit. Namun yang dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya hanya hadits Abu Sa’id al-Khudri yang berbunyi ,

" لا تكتبوا عنى ومن كتب عنى غير القرآن فليمحه وحدثوا عنى ولا حرج ومن كذب عليّ متمعدا فليكتبوّأ مقعده من النار"

“Janganlah kamu sekalian menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an. Barangsiapa yang menulis dariku selain Al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya. Riwayatkanlah dari saya. Barangsiapa yang sengaja berbohong atas nama saya maka bersiaplah (pada) tempatnya di neraka”. (HR. Muslim).

Di sini Nabi melarang para sahabat menulis hadits, tetapi cukup dengan menghafalnya. Beliau membolehkan meriwayatkan hadits dengan disertai ancaman bagi orang yang berbuat bohong. Dan hadits tersebut merupakan satu satunya hadits yang shahih tentang larangan menulis hadits.

Adapun faktor-faktor utama dan terpenting yang menyebabkan Rasulullah melarang penulisan dan pembukuan hadits adalah :[7]

a. Khawatir terjadi kekaburan antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasul bagi orang-orang yang baru masuk Islam.

b. Takut berpegangan atau cenderung menulis hadits tanpa diucapkan atau ditela’ah.

c. Khawatir orang-orang awam berpedoman pada hadits saja.

Nabi telah mengeluarkan ijin menulis hadits secara khusus setelah peristiwa fathu Makkah. Itupun hanya kepada sebagian sahabat yang sudah terpercaya. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah disebutkan, bahwa ketika Rasulullah membuka kota Makkah, beliau berpidato didepan orang banyak dan ketika itu ada seorang lelaki dari Yaman bernama Abu Syah meminta agar dituliskan isi pidato tersebut untuknya. Kemudian Nabi memerintahkan sahabat agar menuliskan untuk Abu Syah.[8]

"يا رسول الله اكتبوا لى. فقال :اكتبوا لأبى شاه"

“WAhai Rasulullah, tuliskanlah untukku, Nabi bersabda (pada para sahabat yang lain), tuliskannya untuknya.”

C. Sejarah hadits pada masa Sahabat dan Tabi’in

1. Masa Pemerintahan Abu Bakar dan Umar Ibn Khattab

Setelah Rasulullah wafat, banyak sahabat yang berpindah ke kota-kota di luar Madinah. Sehingga memudahkan untuk percepatan penyebaran hadits. Namun, dengan semakin mudahnya para sahabat meriwayatkan hadits dirasa cukup membahayakan bagi otentisitas hadits tersebut. Maka Khalifah Abu Bakar menerapkan peraturan yang membatasi periwayatan hadits. Begitu juga dengan Khalifah Umar ibn al-Khattab. Dengan demikian periode tersebut disebut dengan Masa Pembatasan periwayatan hadits.

Pembatasan tersebut dimaksudkan agar tidak banyak dari sahabat yang mempermudah penggunaan nama Rasulullah dalam berbagai urusan, meskipun jujur dan dalam permasalahan yang umum. Namun pembatasan tersebut tidak berarti bahwa kedua khalifah tersebut anti-periwayatan, hanya saja beliau sangat selektif terhadap periwayatan hadits. Segala periwayatan yang mengatasnamakan Rasulullah harus dengan mendatangkan saksi, seperti dalam permasalahan tentang waris yang diriwayatkan oleh Imam Malik.

Abu Hurairah, sahabat yang terbanyak meriwayatkan hadits, pernah ditanya oleh Abu Salamah, apakah ia banyak meriwayatkan hadits di masa Umar, lalu menjawab, "Sekiranya aku meriwayatkan hadits di masa Umar seperti aku meriwayatkannya kepadamu (memperbanyaknya), niscaya Umar akan mencambukku dengan cambuknya."[9]

Riwayat Abu Hurairah tersebut menunjukkan ketegasan Khalifah Umar dalam menerapkan peraturan pembatasan riwayat hadits pada masa pemerintahannya. Namun di sisi lain, Umar ibn Khattab bukanlah orang yang anti periwayatan hadits. Umar mengutus para ulama untuk menyebarkan al-Qur'an dan hadits. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, "Saya tidak mengangkat penguasa daerah untuk memaki orang, memukul, apalagi merampas harta kalian. Tetapi saya mengangkat mereka untuk mengajarkan al-Qur'an dan hadits kepada kamu semua."

2. Masa Pemerintahan Utsman Ibn Affan dan Ali bin Abi Thalib

Secara umum, kebijakan pemerintahan Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib tentang periwayatan tidak berbeda dengan apa yang telah ditempuh oleh kedua khlaifah sebelumnya. Namun, langkah yang diterapkan tidaklah setegas langkah khalifah Umar ibn al-Khattab. Dalam sebuah kesempatan, Utsman meminta para sahabat agar tidak meriwayatkan hadits yang tidak mereka dengar pada zaman Abu Bakar dan Umar. Namun pada dasarnya, periwayatan Hadits pada masa pemerintahan ini lebih banyak daripada pemerintahn sebelumnya.

Sesudah masa Khulafa' al-Rasyidin, timbullah usaha yang lebih sungguh untuk mencari dan meriwayatkan hadits. Bahkan tatacara periwayatan hadits pun sudah dibakukan. Pembakuan tatacara periwayatan hadits ini berkaitan erat dengan upaya ulama untuk menyelamatkan hadits dari usaha-usaha pemalsuan hadits. kegiatan priwayatan hadits pada masa itu lebih luas dan banyak daripada periwayatan pada masa khulafa’ur rasyidin. Kalangan tabi’in telah semakin banyak yang aktif meriwayatkan hadits.

Meskipun banyak hadits yang berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, kehati-hatian pada masa itu sudah bukan lagi menjadi ciri khas yang paling menonjol. Karena meskipun pembakuan tatacara periwayatan telah ditetapkan, luasnya wilayah Islam dan kepentingan golongan memicu munculnya hadits-hadits palsu. Sejak timbul fitnah pada akhir masa Utsman r.a, umat Islam terpecah-pecah dan masing-masing lebih mengunggulkan golongannya. Pemalsuan hadits mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan Daulah Umayyah.

D. Sejarah hadits pada masa abad ke II, III, dan IV H

Pada masa abad ke II ini disebut masa pengkodifikasian Hadits. Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H) yakni yang hidup pada akhir abad 1 H menganggap perlu adanya pembukuan dan penghimpunan hadits, karena beliau kawatir lenyapnya ajaran-ajaran Nabi setelah wafatnya para ulama’ baik dikalangan sahabat maupun tabi’in. maka beliau perintahkan kepada para gubernur di seluruh wilayah negeri Islam agar para ulama’dan ahli ilmu menghimpun dan membukukan hadits.

Penghimpunan hadits pada abad ini masih campur dengan perkataan sahabat dan fatwanya. Berbeda dengan penulisan pada abad sebelumnya yang masih berbentuk lembaran-lembaran (shuhuf) yang hanya dikumpulkan tanpa klasifikasi kedalam beberapa bab secara tertib.

Di antara kitab-kitab yang muncul pada masa ini adalah:[10]

1. Al Muwaththa oleh Malik bin Anas

2. Al Musnad oleh As Syafi’i (tahun 150 - 204 H / 767 - 820 M)

3. Mukhtaliful Hadist oleh As Syafi’i

4. Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani

5. Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (tahun 82 - 160 H / 701 - 776 M)

6. Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (tahun 107 - 190 H / 725 - 814 M)

7. Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (tahun 94 - 175 / 713 - 792 M)

8. As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (tahun 88 - 157 / 707 - 773 M)

9. As Sunan Al Humaidi (wafat tahun 219 H / 834 M)

Abad 3 H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyusunan Hadits. Guna menghindari salah pengertian bagi umat Islam dalam memahami Hadits sebagai prilaku Nabi Muhammad, maka para ulama mulai mengelompokkan Hadits dan memisahkan kumpulan Hadits yang termasuk marfu’ (yang berisi perilaku Nabi Muhammad), mana yang mauquf (berisi prilaku sahabat) dan mana yang maqthu’ (berisi prilaku tabi’in). Usaha pembukuan Hadits pada masa ini selain telah dikelompokkan (sebagaimana dimaksud diatas) juga dilakukan penelitian Sanad dan Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai wujud tash-hih (koreksi/verifikasi) atas Hadits yang ada maupun yang dihafal.

Di antara kitab-kitab yang muncul pada abad 3 H ini adalah:[11]

1. Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)

2. Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)

3. As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)

4. As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)

5. As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)

6. As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)

7. As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)

Selanjutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan Hadits terus dilanjutkan hingga dinyatakannya bahwa pada masa ini telah selesai melakukan pembukuan Hadits.

Di antara kitab-kitab yang muncul pada abad 4 H ini adalah:[12]

1. Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)

2. Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)

3. Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)

4. Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)

5. Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)

6. At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)

7. As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)

8. Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)

9. As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)

10. Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)

11. Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)

E. Sejarah pada abad ke V H sampai sekarang

Sedangkan abad 5 H dan seterusnya adalah masa memperbaiki susunan kitab Hadits seperti menghimpun yang terserakan atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab Hadits abad 4 H.[13]

Kitab-kitab yang muncul pada abad 5 H ini adalah[14]:

  • Hasil penghimpunan

· Bersumber dari kutubus sittah saja

1. Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233 M)

2. Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (? - ? H / ? - 1084 M)

· Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M)

· Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M)

  • Hasil pembidangan (mengelompokkan ke dalam bidang-bidang)

· Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :

1. Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)

2. As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M)

3. Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M)

4. Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (? - 652 H / ? - 1254 M)

5. Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)

6. ‘Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M)

7. Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M)

· Kitab Al Hadits Akhlaq

1. At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)

2. Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)

  • Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadist)[15]

1. Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M)

2. Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)

3. Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M)

4. Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M)

5. Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M)

  • Mukhtashar (ringkasan)

1. Untuk Shahih Bukhari diantaranya Tajridush Shahih oleh Al Husain bin Mubarrak (546-631 H / 1152-1233 M)

2. Untuk Shahih Muslim diantaranya Mukhtashar oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)

  • Lain-lain

1. Kitab Al Kalimuth Thayyib oleh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M) berisi hadits-hadits tentang doa.

2. Kitab Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M) berisi Al Hadits yang dipandang shahih menurut syarat Bukhari atau Muslim dan menurut dirinya sendiri.

Perkembangan penulisan dan pengkodifikasian hadits pada abad 12 H. mulai abad terakhir ini sampai sekarang dapat dikatakan tidak ada kegiatan yang berarti dari para ulama’ dalam bidang hadits, kecuali hanya membaca, memahami, dan memberikan syarah hadits-hadits yang telah terhimpun sebelumnya.

F. Analisis

Dari pembahasan sejarah di atas telah terjadi beberapa peristiwa yang tentunya memiliki latar belakang seperti pada masa pembentukan dan penyebaran hadits, Nabi melarang penulisan hadits hal ini dilatar belakangi oleh kekhawatiran terjadinya kekaburan antara ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Rasul bagi orang-orang yang baru masuk Islam karena penyampaian ayat-ayat al-Qur’an pada semua umat Islam bersumber dari Nabi dan ucapan dari nabi sendiri (hadits)

Pada masa sahabat yaitu Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib telah terjadi perbedaan masa yakni masa pembatasan riwayat dan masa banyaknya riwayat dan juga pemalsuan hadits. Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab beliau berdua membatasi periwayatan hadits. yang melatar belakangi hal ini ialah karena banyak dari para sahabat yang mempermudah mempergunakan nama Rasulullah dalam berbagai urusan, ini dapat membahayakan otentisitas hadits tersebut. Meski karena pembatasan tersebut seakan-akan kedua Khalifah tersebut anti periwayatan.

Sedangkan pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sebenarnya kebijakan mereka tidak berbeda dengan pendahulu beliau akan tetapi karena karakteristik beliau yang lebih lunak dibandingkan dengan Khalifah Umar, selain itu wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas juga menyulitkan pemerintah untuk mengontrol pembatasan riwayat secara maksimal hingga pada masa beliau ini disebut masa banyaknya periwayatan hadits. Sedang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib terjadi pemalsuan hadits, yang melatar belakangi ialah pada masa Khalifah Ali telah terjadi masa krisis dan fitnah dalam masyarakat. Terjadinya peperangan antara beberapa kelompok kepentingan politik. Secara tidak langsung hal ini membawa dampak negative dalam periwayatan hadits. kepentingan politik mendorong untuk melakukan pemalsuan hadits.

Sejarah hadits pada abad ke II H terjadi penghimpunan hadits yang melatar belakangi hal ini adalah karena banyaknya hadits palsu. Akhirnya para sahabat dan tabi’in meneliti dan memeriksa semua hadits-hadits baru dengan cermat dan puncaknya pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk menghimpun hadits.

Pada abad ke III H merupakan masa pendiwanan (pembukuan) dan penyususnan hadits, yang melatar belakangi hal tersebut ialah guna menghindari salah pengertian dalam memahami sebagai perilaku Nabi Muhammad

Pada abad ke V H adalah masa pengelompokkan dalam bidang-bidang agar mempermudah para pembaca hadits.

Perkembangan dan penulisan hadits sampai pada abad 12 H. mulai abad terakhir ini sampai sekarang dapat dikatakan tidak ada kegiatan yang berarti dari para ulama’ dalam bidang hadits, kecuali hanya membaca, memahami hadits.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Perkembangan hadits dimulai dari masa Nabi yakni masa pembentukan dan penyebaran hadits, emudian dilanjutkan masa sahabat Khulafa’ur Rasyidin yaitu masa pembatasan, banyaknya, dan pemalsuan hadits.

Pada abad II, III, IV dan V H adalah masa pembukuan hadits, masa penyaringan dan seleksi ketat dan penyusunan kitab-kitab koleksi.

Penulisan dan pengkodifikasian hadits sampai pada abad 12 H setelah itu sampai sekarang tidak ada lagi kegiatan dari para ulama’ dalam bidang hadits, kecuali membaca dan memahami hadits.

DAFTAR PUSTAKA

http://denologis.blogspot.com/2008/03/makalahku-sejarah-perkembangan-hadits.html

http://mus_1981.tripod.com/definisi_sejarah.htm

http://Ispa.wordpress.com/2007/11/14/definisi-sejarah/

http://pemikiranislam.wordpress.com/2007/08/05/studi-sejarah-hadis/

http://belajar.tiganetwork.com

Drs. Atang Abdul Hakim, MA. DR. Jaih Mubarak. Metodologi Studi Islam. Penerbit PT Remaja Roda Karya Bandung 2004


[2] http://denologis.blogspot.com/2008/03/makalahku-sejarah-perkembangan-hadits.html

[3] http://mus_1981.tripod.com/definisi_sejarah.htm. http:/Ispa.wordpress.com/2007/11/14/definisi-sejarah/

[4] Drs. Atang Abd. Hakim, MA. DR. Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam Hal. 84

[10] http://belajar.tiganetwork.com

[11] http://belajar.tiganetwork.com

[12] http://belajar.tiganetwork.com

[13] http://belajar.tiganetwork.com

[14] http://belajar.tiganetwork.com

[15] http://belajar.tiganetwork.com